Berbagi Kisah: Memahami


IMG_5449

Courtesy of Line

“Bagaimana ada pertanyaan?” Tanya saya kepada mahasiswa yang saya ajar, sambil menatap wajah mereka satu persatu, menunggu respon yang tak kunjung datang. Lalu saya kembali bertanya, “Apa kalian baca materi yang saya kasih?” Mereka tetap termenung, menundukkan kepala. Saya merasakan jantung saya mulai berdetak kencang, memberikan sinyal bahwa emosi saya sudah mulai terusik. Saya menghela nafas panjang lalu mulai memanggil nama mereka satu-persatu. “A, kamu baca materinya?” Dia menggelengkan kepala. Kemudian saya alihkan pandangan saya ke mahasiswa yang lain dan memberikan pertanyaan yang sama, “B, kamu baca materi yang saya kasih minggu lalu? Dia hanya tertunduk, sinyal yang mudah ditebak dia juga tidak membaca. Saya beralih ke mahasiswa yang lain, “Kalau kamu, C? Dia tersenyum dan menjawab, “Baca sedikit,” lalu menundukkan kepalanya. Satu persatu saya panggil tapi tak satupun yang benar-benar meluangkan waktu untuk memahami materi yang saya berikan. Tanpa mereka tahu betapa lelahnya saya merangkum semua itu dengan sesederhana mungkin agar mereka bisa memahami. Ya, MEMAHAMI.

Saat itu saya ingin meluapkan amarah saya hampir tumpah namun saya dapat merasakan adanya Holy Ghost mengendalikan emosi monster ini. Saya ingin keluar dari kelas dan meninggalkan mereka, namun kaki saya seperti dirantai. Kembali saya menghela nafas panjang, lalu terduduk diam. Saya melayangkan pandangan saya keluar jendela untuk memenangkan hati saya yang sedang berkecamuk. Skenario tidak jelas mulai bermunculan di benak saya. Kali ini saya menghela nafas begitu panjang, lalu kembali menatap mereka satu persatu dan bertanya, “Karakter seperti apa yang ingin kalian bentuk?” Entah mengapa pertanyaan ini yang keluar dari mulut saya. Entah . . .

Saya, sebagai pengajar yang dulunya pernah menjadi ‘anak kuliahan’, sangat memahami bahwa lebih enak tidur daripada harus mengerjakan tugas-tugas ribet dari dosen, uhm . . . paham betul. Saya memahami bahwa ber-sosial media itu lebih nikmat daripada harus masuk kelas mendengarkan dosen berbicara, uhm . . . paham betul. Saya juga memahami bahwa sekarang sudah ada Mr. google yang bisa membereskan semua tugas-tugas perkuliahan, uhm . . .paham betul. Saya juga begitu memahami bahwa pacaran lebih nikmat daripada kuliah, yes . . . paham betul. Saya juga paham betul bahwa lebih asyik ngobrol dengan teman daripada berdiskusi materi dengan dosen, sangat paham.

Tetapi saya tidak paham mengapa mereka mau membayar uang kuliah yang mahal tapi tidak serius berkuliah, uhm . . . belum paham. Saya belum paham mengapa menonton ‘korea’ lebih seru daripada membaca buku atau materi perkuliahan yang sudah diberikan secara gratis, uhm . . . belum paham. Saya sungguh tidak paham mengapa kenikmatan sesaat yang dicari bukan mencari ilmu biar masa depan terasa lebih nikmat, uhm . . . belum paham.

Masih banyak hal yang belum saya pahami di dunia ini dan saya sedang mencoba memahaminya satu persatu agar tingkat pemahaman saya mengarahkan saya terhadap level penerimaan yang tinggi; jika tingkat penerimaan saya terhadap ‘keadaan’ jauh lebih tinggi maka saya akan dapat lebih memahami apa yang terjadi di bawah matahari.